Physical Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124
Physical Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124
Ngobrol santai seputar pengadaan
Ngobrol santai seputar pengadaan

Dalam praktik konstruksi, tidak semua material dapat diperlakukan sama. Ada material yang sifatnya umum dan tersedia di pasar lokal sehingga mudah dihitung dan dianggarkan. Di sisi lain terdapat material non-standar: material khusus, kustom, atau langka yang mensyaratkan pendekatan berbeda dalam pengadaan, pemeriksaan kualitas, dan tentu saja perhitungan biaya. Material non-standar sering muncul pada proyek dengan tuntutan estetika tertentu, spesifikasi teknis tinggi, kondisi lingkungan khusus, atau ketika menggunakan produk impor yang tidak memiliki padanan di pasar domestik.
Memahami karakter dan cara menghitung material non-standar penting bagi penyusun RAB, kontraktor, serta pemilik proyek. Kesalahan perhitungan atau asumsi yang keliru terhadap material ini mudah menimbulkan selisih biaya besar, keterlambatan, atau masalah mutu yang sulit diperbaiki di lapangan. Artikel ini akan mengajak Anda memahami jenis-jenis material non-standar, tantangan yang umum dihadapi, dan langkah-langkah praktis untuk menghitungnya secara wajar dan dapat dipertanggungjawabkan.
Material non-standar adalah material yang tidak tersedia secara luas di pasar umum atau memiliki spesifikasi khusus yang berbeda dari produk massal. Bentuk non-standar bisa bermacam-macam: material custom yang dibuat sesuai gambar asli, komponen impor dengan kode pabrikan terbatas, bahan dengan ukuran atau komposisi non-konvensional, sampai material yang memerlukan sertifikasi khusus atau uji laboratorium. Seringkali material jenis ini tidak memiliki harga acuan yang mudah diakses sehingga perlu pendekatan perhitungan khusus.
Material non-standar bukan selalu berarti mahal; ada yang relatif murah tetapi pengadaannya rumit karena jumlah pesanan kecil, atau memerlukan lead time panjang. Selain itu, material non-standar kerap melibatkan proses fabrikasi atau finishing khusus sehingga biaya tidak hanya berupa harga bahan baku, melainkan juga ongkos produksi, kontrol kualitas, dan pengiriman yang harus diperhitungkan.
Beberapa karakteristik yang umumnya dimiliki material non-standar antara lain: ketersediaan terbatas, harga yang fluktuatif atau sulit diindikasi, kebutuhan lead time yang panjang, dan proses quality control yang lebih ketat. Material ini seringkali memerlukan komunikasi langsung dengan pabrikan atau pengrajin, serta dokumentasi teknis seperti sertifikat material, drawing fabrikasi, dan prosedur pengujian. Karena karakteristik tersebut, perhitungan biaya harus memasukkan komponen-komponen yang kadang tidak tampak pada material standar, misalnya biaya tooling, minimum order quantity, biaya pengiriman khusus, dan risiko kerusakan selama transit.
Material non-standar juga sering membutuhkan sample approval sebelum produksi massal. Proses sample ini memakan waktu dan biaya; jika hasil sample tidak disetujui, perlu ada revisi desain atau penggantian material yang menambah biaya dan durasi proyek. Semua aspek ini membuat penanganan material non-standar harus teliti sejak tahap perencanaan.
Material non-standar muncul pada berbagai kondisi proyek. Pada proyek gedung bertingkat tinggi atau bangunan publik yang mengedepankan desain unik, arsitek sering menyarankan material khusus untuk tampilan fasad, panel perforasi, atau kaca dengan lapisan khusus. Di proyek infrastruktur, kondisi tanah atau lingkungan tertentu mungkin memerlukan material yang tahan korosi tinggi atau beton khusus. Di proyek restorasi atau renovasi bangunan bersejarah, pemasok mungkin harus menyiapkan material dengan dimensi dan tampilan yang sama dengan aslinya. Selain itu, proyek-proyek yang mengandalkan teknologi modern, seperti instalasi sistem mekanikal khusus atau komponen prefabrikasi, juga sering melibatkan material non-standar.
Karena alasan tersebut, penting bagi tim perencanaan untuk mendeteksi sejak awal kebutuhan material non-standar agar pengadaan dan perhitungan biayanya tidak terlambat dan tidak menjadi sumber risiko.
Salah satu tantangan terbesar adalah penentuan harga yang wajar. Karena tidak ada patokan pasar yang luas, harga seringkali didasarkan pada penawaran pabrikan atau pengrajin yang bersifat unik. Perubahan kurs mata uang, biaya impor, dan perubahan harga bahan baku global dapat membuat angka menjadi bergerak cepat. Tantangan lain adalah lead time produksi dan pengiriman yang panjang, yang menuntut perencanaan lebih awal dan cadangan waktu yang realistis.
Selain itu, risiko kualitas menjadi perhatian serius. Material non-standar biasanya tidak bisa di-rollback begitu saja bila tidak sesuai; mengganti produk yang sudah diproduksi bisa sangat mahal dan memakan waktu. Logistik dan handling juga lebih rumit, terutama untuk material berukuran besar atau rapuh yang memerlukan packing khusus. Semua tantangan ini harus tercermin dalam perhitungan RAB dan dalam klausul kontrak agar semua pihak memahami konsekuensi jika terjadi perubahan.
Prinsip pertama adalah jangan menganggap harga sama seperti material standar; lakukan survei harga dan perolehan penawaran dari minimal dua sumber jika memungkinkan. Prinsip kedua adalah memasukkan semua komponen biaya, tidak hanya harga barang di pabrik. Komponen-komponen tersebut meliputi biaya material, biaya fabrikasi atau finishing, biaya packaging khusus, biaya pengiriman (dalam dan luar negeri bila impor), biaya asuransi pengiriman, biaya sertifikasi atau pengujian, biaya imbuh atas minimum order, biaya handling di lapangan, serta faktor pemborosan atau scrap yang mungkin terjadi.
Prinsip ketiga adalah memasukkan alokasi overhead dan margin sesuai kebijakan perusahaan untuk material yang memerlukan kegiatan manajerial lebih besar. Prinsip keempat adalah menyiapkan cadangan waktu (lead time buffer) dan cadangan biaya (kontinjensi) yang realistis, karena keterlambatan atau penolakan quality control dapat menambah biaya signifikan.
Langkah pertama adalah definisi teknis yang sangat jelas. Spesifikasi harus memuat dimensi, toleransi, bahan, finishing, sertifikasi yang diminta, serta kondisi kerja yang diharapkan. Langkah kedua adalah meminta penawaran formal (quotation) dari pabrikan atau supplier dan meminta breakdown biaya. Breakdown ini harus memisahkan harga bahan baku, upah fabrikasi, biaya pengepakan, biaya uji, dan biaya lain yang relevan.
Langkah ketiga adalah menghitung biaya transportasi sampai ke lokasi proyek, termasuk penanganan khusus di pelabuhan, bea masuk dan pajak impor bila berlaku, serta biaya lokalisasi jika supplier berada di luar negeri. Langkah keempat adalah menambahkan faktor pemborosan sesuai pengalaman lapangan dan sifat material; material yang diproses secara manual biasanya memiliki tingkat scrap lebih tinggi dibanding material produksi massal. Langkah kelima adalah menetapkan overhead proyek dan margin keuntungan yang mencerminkan tingkat risiko material tersebut.
Pada material non-standar sering muncul perbedaan satuan antara pabrikan dan kebutuhan lapangan. Misalnya, pabrikan menawar per sheet, sedangkan RAB memerlukan per meter persegi; atau pabrikan mengeluarkan harga per unit yang harus dikonversi menjadi berat atau volume. Konversi yang akurat sangat penting: salah konversi akan menghasilkan harga satuan yang salah dan merusak seluruh RAB. Oleh karena itu, hitungan konversi harus dilakukan dengan cermat, mencatat dimensi dan faktor konversi, serta menyertakan asumsi yang jelas dalam dokumen anggaran.
Selain itu, perlu diperhatikan faktor penggunaan efektif area; misalnya panel dengan dimensi tertentu mungkin menyisakan sisa yang tidak dapat dipakai, sehingga efektifitas penggunaan harus diperhitungkan. Dokumen perhitungan harus menyertakan metode penghitungan konversi agar dapat ditinjau atau diaudit.
Material non-standar sering memerlukan cadangan lebih dibanding material standar. Faktor pemborosan mencakup potongan karena pemotongan, cacat fabrikasi, dan perubahan desain saat instalasi. Besaran pemborosan sebaiknya ditentukan berdasarkan pengalaman proyek serupa atau didiskusikan bersama supplier. Pemborosan bukan sekadar persentase rumus; ia harus dibenarkan dengan alasan teknis dan kondisi lapangan. Mengabaikan pemborosan berisiko menimbulkan kebutuhan pembelian ulang yang mahal, sedangkan memasukkan pemborosan yang berlebihan membuat harga menjadi tidak kompetitif.
Cadangan material juga penting untuk mengantisipasi kebutuhan penggantian saat terjadi kerusakan. Untuk material impor dengan lead time panjang, cadangan ini menjadi sangat krusial agar pekerjaan tidak terganggu ketika terjadi kecacatan.
Seringkali material non-standar memerlukan uji laboratorium, sertifikat pabrikan, dan jaminan mutu tertentu. Biaya ini harus dimasukkan dalam perhitungan. Uji dapat meliputi uji tarik, uji korosi, uji ketahanan cuaca, atau pengukuran dimensi tersendiri. Biaya uji dan waktu untuk memperoleh sertifikat menambah lead time dan perlu tercantum dalam jadwal pengadaan.
Jaminan kualitas dan garansi juga berpengaruh pada harga. Supplier yang memberi garansi lebih panjang biasanya memasukkan biaya jaminan dalam harga. Dari sisi kontraktor, menuntut garansi yang jelas menjadi mitigasi risiko jika material rusak atau gagal di lapangan.
Setelah menghimpun seluruh biaya langsung, langkah berikutnya adalah menambahkan overhead proyek yang proporsional. Overhead untuk material non-standar biasanya lebih tinggi karena memerlukan manajemen khusus, komunikasi intens, dan dokumentasi. Selanjutnya, tambahkan margin keuntungan sesuai kebijakan perusahaan. Jangan lupa perhitungkan pajak yang berlaku seperti PPN atau bea masuk untuk barang impor. Perhitungan pajak harus akurat karena dapat mengubah total angka secara signifikan dan memengaruhi cashflow proyek.
Berikut contoh numerik sederhana untuk mengilustrasikan langkah perhitungan. Anggap sebuah proyek memerlukan panel perforasi kustom untuk fasad, yang hanya diproduksi oleh satu pabrik di luar negeri. Spesifikasi panel: ukuran tiap lembar 2,50 m x 1,25 m sehingga luas per lembar 3,125 m2. Harga material per lembar di pabrik adalah Rp 1.250.000. Biaya fabrikasi/finishing per lembar Rp 350.000. Biaya pengemasan dan pengiriman domestik ke pelabuhan pabrik Rp 75.000 per lembar. Kita ingin menghitung harga per meter persegi termasuk wastage, overhead, margin, dan PPN 11 persen. Kita asumsikan wastage 7 persen, overhead proyek 12 persen pada biaya langsung, dan margin 10 persen. Perhitungan dilakukan langkah demi langkah.
Langkah pertama: hitung biaya langsung per lembar yaitu harga material ditambah biaya fabrikasi dan biaya pengiriman domestik: Rp 1.250.000 ditambah Rp 350.000 ditambah Rp 75.000 sama dengan Rp 1.675.000 per lembar. Luas tiap lembar adalah 2,50 dikali 1,25 sama dengan 3,125 m2. Untuk mendapatkan biaya langsung per m2, bagi Rp 1.675.000 dengan 3,125 m2. Karena 3,125 sama dengan 25 dibagi 8, pembagian ini sama dengan mengalikan dengan 0,32. Maka Rp 1.675.000 dikali 0,32 menghasilkan Rp 536.000 per m2 sebagai biaya langsung sebelum wastage.
Langkah kedua: memasukkan wastage 7 persen. Wastage berarti kita membutuhkan bahan 1,07 kali dari kebutuhan bersih. Jadi biaya setelah wastage menjadi Rp 536.000 dikali 1,07 sama dengan Rp 573.520 per m2.
Langkah ketiga: tambahkan overhead proyek sebesar 12 persen dari biaya setelah wastage. Overhead adalah Rp 573.520 dikali 0,12 sama dengan Rp 68.822,40. Jumlah setelah overhead menjadi Rp 573.520 ditambah Rp 68.822,40 sama dengan Rp 642.342,40 per m2.
Langkah keempat: tambahkan margin keuntungan 10 persen atas jumlah setelah overhead. Margin adalah Rp 642.342,40 dikali 0,10 sama dengan Rp 64.234,24. Sehingga harga sebelum pajak menjadi Rp 642.342,40 ditambah Rp 64.234,24 sama dengan Rp 706.576,64 per m2.
Langkah terakhir: hitung PPN 11 persen pada harga sebelum pajak. PPN adalah Rp 706.576,64 dikali 0,11 sama dengan Rp 77.723,4304. Jadi harga total termasuk PPN menjadi Rp 706.576,64 ditambah Rp 77.723,4304 sama dengan Rp 784.300,0704 per m2, dibulatkan menjadi sekitar Rp 784.300 per m2. Hasil ini menunjukkan bagaimana beberapa komponen kecil—wastage, overhead, margin, dan pajak—dapat meningkatkan harga akhir material non-standar secara signifikan dibandingkan harga pabrik per lembar.
Contoh ini hanya ilustrasi. Pada kenyataannya masih perlu menambahkan komponen seperti biaya impor, bea masuk, asuransi pengiriman internasional, dan handling pelabuhan bila material diproduksi di luar negeri. Namun langkah perhitungan yang sistematis seperti contoh ini membantu membuat angka menjadi transparan dan terverifikasi.
Material non-standar bisa mengubah struktur RAB karena porsi biaya langsung dan tidak langsung berubah. Selain itu, lead time yang panjang memengaruhi jadwal pelaksanaan sehingga arus kas proyek perlu disesuaikan. Ketika material belum datang sesuai jadwal, pekerjaan terkait bisa tertunda dan biaya overhead proyek terus berjalan. Oleh karena itu, manajemen material non-standar harus terkait erat dengan manajemen jadwal dan cashflow.
Dalam beberapa kasus, pilihan untuk menggunakan material non-standar harus dievaluasi ulang terhadap alternatif yang lebih mudah diperoleh. Analisis life-cycle cost membantu menilai apakah manfaat fungsi atau estetika sebanding dengan tambahan biaya dan risiko.
Strategi pertama adalah early procurement: memesan lebih awal sehingga lead time panjang tidak mengganggu jadwal utama. Strategi kedua adalah sample approval sebelum produksi masal untuk meminimalkan resiko penolakan produk. Strategi ketiga adalah kontrak yang jelas dengan klausul jaminan mutu, penalti keterlambatan, dan syarat pembayaran yang terukur sehingga risiko biaya dapat dibagi antara pemilik proyek dan kontraktor. Strategi keempat adalah diversifikasi sumber: jika memungkinkan cari alternatif supplier atau produksi domestik yang memenuhi standar. Strategi kelima adalah menyiapkan buffer finansial dan jadwal yang realistis dalam RAB.
Dokumentasi adalah kunci untuk mengelola material non-standar. Spesifikasi teknis harus lengkap dan disertai gambar kerja, toleransi ukuran, standar pengujian, dan sertifikat yang disyaratkan. Dalam kontrak pengadaan sebaiknya dimuat syarat lead time, proses sample approval, tanggung jawab asuransi pengiriman, dan mekanisme klaim jika barang tidak sesuai. Jika ada impor, cantumkan siapa yang menanggung bea masuk dan pajak, serta bagaimana perubahan kurs akan ditangani. Kejelasan kontrak mencegah perselisihan dan memudahkan pengendalian biaya.
Pertama, mulailah mendeteksi kebutuhan material non-standar sedini mungkin dalam fase desain. Kedua, jangan ragu meminta breakdown biaya dari supplier agar perhitungan dapat ditelusuri. Ketiga, catat lead time realistis dan tambahkan buffer waktu. Keempat, dokumentasikan asumsi konversi satuan dan tingkat wastage. Kelima, masukkan pos untuk uji, sertifikasi, dan handling khusus. Keenam, komunikasikan dengan pemilik proyek tentang konsekuensi biaya dan jadwal agar harapan selaras. Ketujuh, gunakan pengalaman historis atau benchmark untuk menentukan persentase overhead dan margin yang wajar.
Material non-standar memberi nilai tambah berupa fungsi khusus atau estetika yang tidak bisa dicapai dengan produk standar. Namun, material ini juga membawa kompleksitas dalam pengadaan, perhitungan biaya, pengujian, dan pengendalian waktu. Kunci mengelolanya adalah transparansi perhitungan, dokumentasi yang lengkap, komunikasi yang baik antara semua pihak, dan mitigasi risiko yang matang melalui kontrak dan perencanaan.
Dengan memahami langkah-langkah praktis perhitungan—mulai dari menghimpun penawaran, mengonversi satuan, memperhitungkan wastage, menambahkan overhead dan margin, hingga memproyeksikan pajak dan biaya impor—penyusun RAB dapat menyediakan angka yang realistis dan bertanggung jawab. Semoga tulisan ini memberi panduan praktis dan mendorong kebiasaan menghitung material non-standar secara teliti sehingga proyek konstruksi berjalan lebih lancar, aman, dan sesuai anggaran.