Physical Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124
Physical Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124
Ngobrol santai seputar pengadaan
Ngobrol santai seputar pengadaan

Kalau ada profesi di kantor pemerintah yang paling sering bikin senam jantung, mungkin Kelompok Kerja Pemilihan—atau yang beken disebut Pokja—adalah juaranya. Menjadi anggota Pokja itu seperti berdiri di atas tali tipis. Di bawahnya ada jurang masalah hukum, di depannya ada kejaran deadline yang tidak kenal ampun, dan di belakangnya ada bisikan-bisikan halus yang menguji iman.
Banyak orang luar melihat Pokja itu “basah”. Enak, katanya. Pegang proyek besar, sering diajak makan enak oleh vendor, dan punya kuasa menentukan siapa yang menang. Tapi, coba tanya langsung ke mereka yang menjalani. Jawabannya pasti beda. Menjadi Pokja itu lebih banyak “keringnya” daripada “basahnya”. Kering keringat, kering air mata, dan kadang kering waktu buat keluarga.
Duka yang paling utama adalah soal waktu. Siklus pengadaan kita, seperti yang sering saya tulis, hobinya menumpuk di akhir tahun. Di saat orang lain sudah mulai memikirkan mau liburan ke mana saat Natal dan Tahun Baru, anggota Pokja justru sedang “bertapa” di depan layar monitor.
Mereka harus memeriksa ribuan lembar dokumen penawaran. Satu per satu. Tidak boleh ada yang terlewat. Kalau salah ketik sedikit saja dalam berita acara, urusannya bisa panjang. Sanggahan vendor akan datang bertubi-tubi. Kalau sudah begitu, hari Sabtu dan Minggu hanyalah mitos. Kantor sudah seperti rumah kedua, dan kopi adalah kawan setia yang paling setia.
Lalu, ada tekanan dari “atas” dan “samping”. Inilah ujian integritas yang sesungguhnya. Kadang ada telepon masuk dari orang-orang yang merasa punya pengaruh. Isinya halus, tapi intinya satu: minta tolong agar vendor si A atau si B dibantu. Di sinilah mental seorang Pokja diuji.
Kalau dia menuruti, dia sedang menabung masalah untuk masa depannya. Auditor atau KPK tidak akan peduli siapa yang menelepon Anda; mereka hanya peduli pada apa yang Anda tanda tangani. Tapi kalau dia menolak, risiko “dikucilkan” atau dipindah ke bagian yang “kering” selalu membayangi. Menjadi Pokja yang jujur itu butuh keberanian yang setebal baja.
Belum lagi urusan dengan vendor yang tidak terima kalah. Di era keterbukaan ini, masa sanggah adalah masa yang paling krusial. Vendor yang kalah seringkali mencari kesalahan sekecil lubang jarum pada proses yang dilakukan Pokja. Mereka melapor ke sana-ke mari, bahkan sampai ada yang mengancam lapor ke aparat penegak hukum. Bagi Pokja yang lurus, ini adalah teror mental. Padahal mereka hanya menjalankan aturan yang ada di dokumen pemilihan.
Tapi, apakah isinya cuma duka? Tentu tidak. Ada “suka” yang tidak bisa dibayar dengan uang. Ada kepuasan batin yang luar biasa ketika sebuah proses tender selesai dengan sukses, tanpa masalah, dan barang atau jasanya benar-benar bermanfaat buat masyarakat.
Misalnya, ketika tender pembangunan puskesmas di daerah terpencil selesai tepat waktu. Saat melihat gedung itu berdiri dan rakyat bisa berobat dengan layak, ada rasa bangga di hati anggota Pokja. “Itu gedung ada karena saya memastikan proses pengadaannya benar,” batinnya. Itu adalah kepuasan yang sifatnya spiritual.
Pokja masa kini juga sudah jauh lebih keren. Mereka adalah orang-orang pilihan yang harus punya sertifikat keahlian. Mereka harus paham regulasi yang berubahnya lebih cepat dari musim. Mereka harus jadi ahli hukum, ahli teknik, sekaligus ahli negosiasi dalam satu waktu.
Ke depan, saya berharap profesi Pokja ini makin dihargai. Bukan cuma dengan beban kerja yang ditambah, tapi dengan perlindungan hukum yang jelas dan insentif yang layak. Jangan sampai orang-orang hebat takut jadi Pokja hanya karena merasa “risikonya tidak sebanding dengan hasilnya”. Kita butuh orang-orang berintegritas untuk menjaga uang negara di garda terdepan.
Jadi, kalau Anda punya teman atau saudara yang jadi anggota Pokja, jangan dulu berpikiran mereka sedang “panen” proyek. Berikan mereka semangat. Tanya apakah mereka sudah makan atau belum. Karena di balik proyek-proyek besar yang kita nikmati, ada kerja keras mereka yang seringkali tidak terlihat, yang berjuang menjaga integritas di tengah gempuran deadline yang menggila.
Integritas itu memang mahal, tapi itulah satu-satunya harta yang dibawa pulang oleh seorang anggota Pokja saat pensiun nanti: tidur yang nyenyak karena tidak ada beban di hati.
Menurut Anda, apa yang paling dibutuhkan oleh para Pokja kita agar tetap tangguh menjaga amanah?