Physical Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124
Physical Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124
Ngobrol santai seputar pengadaan
Ngobrol santai seputar pengadaan

Waktu saya masih mahasiswa dulu, kalau ditanya soal “pengadaan barang dan jasa”, mungkin jawaban saya hanya seputar beli alat tulis di koperasi atau pesan kaos panitia ospek. Tidak ada di bayangan saya bahwa pengadaan itu adalah sebuah ilmu raksasa yang menggerakkan triliunan rupiah uang negara. Kita belajar ekonomi, belajar manajemen, belajar hukum, tapi jarang sekali ada mata kuliah yang secara spesifik membedah bagaimana negara ini membelanjakan uangnya.
Padahal, coba kita renungkan sejenak. Setiap jembatan yang kita lewati, setiap aspal jalan yang mulus, sampai buku pelajaran yang dipegang anak-anak sekolah, semuanya berasal dari satu proses yang bernama pengadaan. Jika proses ini dikelola oleh orang-orang yang tidak paham—atau lebih buruk lagi, orang yang hanya sekadar “ikut-ikutan”—maka hasilnya adalah pemborosan. Atau yang lebih fatal: korupsi.
Itulah mengapa saya merasa edukasi pengadaan ini sudah sangat mendesak untuk masuk ke bangku kuliah. Bukan hanya sebagai selipan di mata kuliah hukum administrasi negara, tapi sebagai sebuah disiplin ilmu yang utuh, menarik, dan dipahami oleh anak muda sejak dini.
Kenapa harus sejak kuliah? Karena di sinilah idealisme sedang tinggi-tingginya. Mahasiswa itu kritis. Mereka punya energi untuk memperbaiki sistem. Kalau sejak kuliah mereka sudah paham bahwa pengadaan adalah urat nadi pembangunan, maka ketika nanti mereka lulus dan masuk ke birokrasi atau jadi pengusaha, mereka tidak akan kaget. Mereka tidak akan menganggap pengadaan itu sebagai “lahan basah” untuk dicurangi, melainkan sebagai ladang pengabdian untuk memastikan rakyat mendapatkan barang dan jasa terbaik.
Selama ini, dunia pengadaan kita sering diisi oleh orang-orang yang “tercebur”. Mereka masuk ke unit pengadaan bukan karena pilihan karir sejak awal, tapi karena tugas kantor. Akhirnya, mereka belajar sambil jalan, belajar dari senior, yang celakanya kalau seniornya punya kebiasaan lama yang buruk, maka ilmu “main mata” itulah yang turun temurun. Dengan adanya edukasi di kampus, kita sedang memutus mata rantai ilmu sesat itu. Kita sedang menyiapkan bibit-bibit profesional yang integritasnya sudah dipupuk sejak dari teori.
Belajar pengadaan itu sebenarnya seru sekali. Ini bukan cuma soal hafal-hafalan pasal di Perpres. Pengadaan itu adalah seni bernegosiasi, ilmu manajemen rantai pasok, kepiawaian dalam menganalisis pasar, hingga ketelitian dalam aspek hukum kontrak. Kalau anak ekonomi belajar cara jualan yang untung, maka di pengadaan mereka belajar cara beli yang paling menguntungkan buat negara. Value for money, begitu istilah kerennya.
Bayangkan kalau mahasiswa teknik sipil tidak hanya belajar cara mengaduk semen yang kuat, tapi juga paham cara menyusun dokumen tender proyek konstruksi yang bersih. Bayangkan mahasiswa kedokteran yang juga paham bagaimana tata cara pengadaan alat kesehatan agar tidak ada lagi cerita rumah sakit kekurangan oksigen karena proses belanjanya yang ruwet. Dunia akan jauh lebih efisien kalau para calon ahli ini paham aturan main belanjanya.
Dunia kampus juga bisa menjadi laboratorium inovasi pengadaan. Mahasiswa IT bisa membuat simulasi sistem e-katalog yang lebih canggih dan anti-retas. Mahasiswa matematika bisa mengembangkan algoritma untuk mendeteksi adanya persekongkolan antar vendor dalam sebuah tender. Kampus harusnya menjadi tempat lahirnya ide-ide segar untuk menyempurnakan sistem yang sudah ada. Jangan sampai dunia pengadaan kita hanya jalan di tempat karena orang-orang di dalamnya malas berinovasi.
Selain itu, edukasi pengadaan sejak kuliah akan membuka mata mahasiswa bahwa menjadi “Ahli Pengadaan” adalah jalur karir yang sangat bergengsi di masa depan. Di luar negeri, profesi procurement specialist itu sangat dicari dan dihargai tinggi. Di Indonesia, kita masih butuh ribuan, bahkan puluhan ribu orang yang bersertifikat ahli pengadaan namun memiliki integritas setebal baja. Ini adalah peluang kerja yang sangat nyata, namun sayangnya belum banyak dilirik oleh para pencari kerja muda.
Tentu saja, gaya pengajarannya jangan dibuat kaku seperti membaca teks proklamasi. Jangan bikin mahasiswa mengantuk dengan teori-teori usang. Bawa praktisi ke kelas. Ceritakan sapa-duka menangani proyek besar. Simulasikan cara melakukan nego di e-katalog. Biarkan mereka berdebat soal mana yang lebih penting: harga paling murah atau kualitas paling wah. Dengan cara yang interaktif, ilmu pengadaan akan terasa “hidup” dan tidak lagi dianggap sebagai dunia yang gelap dan menakutkan.
Kita ingin ketika seorang sarjana baru lulus, dia sudah punya kepercayaan diri. Jika dia masuk ke instansi pemerintah, dia tidak mudah digoyahkan oleh oknum yang ingin mengajaknya “bermain”. Jika dia menjadi pengusaha, dia paham bagaimana bersaing secara sehat tanpa harus menyuap. Inilah pondasi mental yang hanya bisa dibangun jika edukasi diberikan secara mendalam dan sejak dini.
Negara ini tidak kekurangan orang pintar, tapi kita kekurangan orang yang paham sistem dan mau jujur menjalaninya. Memberikan edukasi pengadaan di kampus adalah investasi jangka panjang. Hasilnya mungkin tidak terlihat dalam satu atau dua tahun, tapi sepuluh tahun lagi, kita akan memanen birokrasi yang lebih bersih dan dunia usaha yang lebih kompetitif karena dikelola oleh alumni-alumni yang sudah “melek pengadaan” sejak mereka masih memakai jaket almamater.
Mimpi kita adalah melihat pengadaan bukan lagi menjadi berita di kolom kriminal, melainkan berita di kolom inovasi dan kemajuan. Dan semua itu harus dimulai dari kelas-kelas di universitas. Kita harus berani mendobrak kurikulum lama agar lebih relevan dengan kebutuhan bangsa yang ingin berlari kencang menuju Indonesia Emas.
Jadi, untuk para dosen dan pengelola kampus, mari kita buka pintu lebar-lebar untuk ilmu pengadaan. Dan untuk para mahasiswa, jangan lewatkan kesempatan untuk memahami “mesin” penggerak uang negara ini. Masa depan pengadaan yang bersih ada di tangan kalian, dan itu dimulai dari meja belajar kalian hari ini.
Apakah menurut Anda universitas di Indonesia sudah siap menjadikan pengadaan sebagai mata kuliah wajib? Atau kita masih butuh waktu lebih lama untuk meyakinkan para akademisi kita?