Anatomi Persekongkolan Tender: Bagaimana Mereka Berbagi Kue?

Beberapa hari yang lalu, saya tak sengaja menguping pembicaraan di sebuah ruang VIP restoran di sudut kota. Di sana, tiga orang pria berpakaian safari necis sedang duduk melingkar, menghadapi hidangan kakap bakar yang baunya sedap sekali. Namun, yang lebih sedap dari aromanya adalah topik pembicaraannya. Mereka sedang asyik membagi-bagi peta sebuah kabupaten, bukan untuk urusan pariwisata, melainkan urusan “jatah aspal” tahun depan.

“Gini aja, Mas. Paket yang di Kecamatan A kasih ke CV-mu. Nanti yang di Kecamatan B, aku yang masuk pakai bendera sepupuku. Tapi ingat, di paket C, kita semua harus ‘tiarap’ ya, itu jatahnya Pak Kadin buat orang pusat,” kata salah satu dari mereka sambil tertawa renyah, seolah-olah sedang membagi potongan kue ulang tahun anak kecil.

Saya tersedak es teh saya. Inilah wajah asli dari apa yang secara teknis disebut sebagai “Persekongkolan Tender”. Sebuah anatomi kerja sama yang begitu rapi, begitu intim, dan sayangnya, begitu menghancurkan nurani pembangunan kita.

Arisan Perusahaan: Giliranmu Menang, Giliranku “Ndampingi”

Mari kita bedah jeroan persekongkolan ini. Modus yang paling jamak adalah “Arisan Tender”. Para vendor di sebuah daerah biasanya sudah punya paguyuban tidak resmi. Mereka duduk bareng sebelum lelang tayang di LPSE. Di sana, mereka sudah menentukan siapa yang akan jadi “Pengantin” (pemenang) di paket mana.

Lalu, bagaimana dengan vendor lainnya? Apakah mereka cuma menonton? Tentu tidak. Mereka berperan sebagai “Pendamping” atau “Pengiring”. Perusahaan-perusahaan ini tetap ikut mendaftar, tetap unggah dokumen, tapi dokumennya sengaja dibuat cacat secara halus. Ada yang lupa melampirkan bukti kepemilikan alat, ada yang harganya sengaja dibuat sedikit lebih mahal dari si Pengantin.

Tujuannya? Agar tender terlihat kompetitif di mata sistem dan auditor. “Tuh lihat, yang ikut ada lima perusahaan kok, persaingannya ketat!” Padahal, empat di antaranya cuma jadi “figuran” yang nanti di proyek berikutnya akan gantian jadi tokoh utama. Ini bukan kompetisi, ini adalah pembagian kue yang adil bagi mereka, tapi sangat tidak adil bagi uang rakyat.

Pinjam Bendera: Satu Tangan, Seribu Wajah

Anatomi lainnya yang tak kalah canggih adalah praktik “Pinjam Bendera”. Ada satu orang “Pemain Besar” yang sebenarnya menguasai semua alat dan modal. Tapi, agar tidak terlihat monopoli, dia meminjam belasan perusahaan kecil milik teman, saudara, atau bahkan supirnya sendiri.

Saat tender dimulai, sepuluh perusahaan ini semuanya ikut menawar. Masyarakat melihat ada sepuluh peserta, wah hebat! Padahal, semua dokumen itu diketik di satu laptop yang sama, oleh satu orang staf yang sama, dan jaminan banknya pun berasal dari satu rekening bos yang sama.

Siapa pun yang menang, uangnya lari ke kantong si Bos tadi. Perusahaan-perusahaan kecil itu cuma dapat “fee bendera” yang nilainya mungkin cuma satu-dua persen. Hasilnya? Persaingan mati total, dan si Bos besar bisa menentukan harga semaunya karena dia sedang bertanding melawan bayangannya sendiri.

Konsorsium Siluman dan Komitmen “Fee”

Persekongkolan ini tidak akan berjalan mulus tanpa restu dari “orang dalam”. Di sinilah letak jantung anatominya: komitmen fee.

Sebelum tender diumumkan, biasanya sudah ada kesepakatan berapa persen jatah untuk si pejabat pengadaan, berapa untuk “pengaman” di legislatif, dan berapa untuk organisasi ini-itu. Pemenang tender bukan dipilih berdasarkan siapa yang paling ahli, tapi siapa yang paling “komit” dan paling rapi dalam mendistribusikan potongan kue tadi.

Vendor yang jujur dan ingin kerja beneran tanpa nyuap? Dia akan dianggap sebagai “pengganggu stabilitas ekosistem”. Dia akan dipersulit, dokumennya dikuliti habis-habisan, sampai dia merasa kapok dan tidak mau ikut tender lagi. Akhirnya, yang tersisa di lingkaran proyek hanyalah mereka yang pandai berbagi kue, bukan mereka yang pandai membangun jembatan.

Rakyat yang Kebagian “Remah-remah”

Apa yang tersisa untuk rakyat dari pesta bagi-bagi kue ini? Sayangnya, cuma remah-remahnya.

Karena kue proyeknya sudah banyak dipotong untuk “jatah preman” dan “fee koordinasi”, si pemenang akhirnya harus menyunat kualitas material agar tetap untung. Semen dikurangi, aspal ditipiskan, besi diganti yang lebih kecil. Kita mendapatkan infrastruktur yang umurnya tidak lebih panjang dari masa jabatan pejabat yang meresmikannya.

Persekongkolan tender adalah bentuk pengkhianatan paling nyata dalam pengadaan barang dan jasa. Ia membunuh impian para pengusaha muda yang jujur, dan ia merampas hak rakyat atas bangunan yang berkualitas. Selama kita masih menganggap “arisan proyek” itu sebagai hal yang lumrah, maka pembangunan kita akan selalu berjalan di tempat, sekeropos beton yang dikerjakan oleh vendor hasil persekongkolan.

Saya meninggalkan restoran itu saat tiga pria tadi sedang memesan kopi penutup. Tawanya masih terdengar sampai parkiran. Saya cuma bisa membatin, semoga suatu saat nanti, “kue” pembangunan itu benar-benar sampai ke piring rakyat dalam keadaan utuh, tanpa harus dipotong-potong di ruang gelap oleh para pemburu rente.

Mari kita ngopi lagi. Setidaknya kopi saya sore ini saya beli sendiri, tidak hasil dari persekongkolan dengan barista, jadi pahitnya terasa terhormat.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *