Menghadapi “Titipan” Tanpa Harus Masuk Penjara

Dalam ekosistem pengadaan barang dan jasa (PBJ) di Indonesia, ada satu kata yang kalau diucapkan di ruang rapat bisa membuat suhu ruangan mendadak terasa dingin: “Titipan”.

Anda mungkin seorang Pejabat Pembuat Komitmen (PPK), anggota Pokja Pemilihan, atau pejabat pengadaan yang baru dilantik dengan idealisme setinggi langit. Namun, di tahun pertama menjabat, tiba-tiba ada telepon dari “atas”, pesan singkat dari “samping”, atau kunjungan tamu tak diundang yang membawa nama tokoh besar. Intinya satu: “Tolong bantu perusahaan si A di proyek B.”

Ini adalah momen pembuktian. Di satu sisi, ada tekanan hierarki atau relasi yang kuat. Di sisi lain, ada bayang-bayang rompi oranye dan jeruji besi jika Anda salah melangkah. Bagaimana cara menghadapi “titipan” ini dengan elegan, profesional, dan yang paling penting: tetap aman secara hukum? Mari kita bedah strateginya.

1. Pahami Bahwa “Membantu” Tidak Berarti “Melanggar”

Langkah pertama adalah mengubah pola pikir. Banyak orang menganggap kalau ada titipan, artinya kita harus curang. Padahal, tugas Anda adalah menjadi pengawal aturan.

Ketika seseorang “menitipkan” vendor, respon pertama Anda bukan mengiyakan atau langsung menolak dengan galak. Responlah dengan profesional: “Siap, silakan vendor tersebut mengikuti proses sesuai prosedur. Kami akan evaluasi secara objektif.”

Kalimat ini adalah benteng pertama Anda. Anda tidak menolak perintah (secara politik), tapi Anda menegaskan bahwa jalur yang ditempuh tetap harus jalur formal (secara hukum).

2. Jadikan Dokumen Spesifikasi sebagai “Tameng”

Senjata terkuat orang pengadaan adalah Dokumen Spesifikasi dan Harga Perkiraan Sendiri (HPS). Jika vendor titipan tersebut memang kompeten, mereka tidak akan masalah dengan spek yang standar. Namun, sering kali masalahnya adalah vendor titipan itu “abal-abal” atau tidak punya keahlian.

Di sinilah Anda harus sangat ketat. Jangan pernah menurunkan standar spesifikasi hanya untuk mengakomodasi satu vendor. Jika mereka tidak mampu memenuhi kualitas yang dibutuhkan negara, biarkan sistem yang menggugurkan mereka, bukan Anda secara pribadi. Auditor atau KPK tidak akan bertanya siapa yang menitip, mereka akan bertanya: “Kenapa Anda meloloskan vendor yang tidak memenuhi syarat?”

3. “Digitalisasi” adalah Sahabat Karib Anda

Dulu, di era tender manual, manipulasi dokumen sangat mudah dilakukan di bawah meja. Sekarang, dengan adanya SPSE (Sistem Pengadaan Secara Elektronik), setiap langkah Anda terekam secara digital.

Gunakan ini sebagai alasan saat ditekan. “Mohon izin Pak/Bu, sekarang sistemnya sudah online dan terpantau langsung oleh LKPP serta KPK. Setiap klik dan unggahan dokumen ada jejak digitalnya. Kalau dipaksakan yang tidak sesuai, sistem akan memicu alarm audit secara otomatis.”

Menyalahkan sistem sering kali jauh lebih efektif dan tidak menyinggung perasaan pemberi titipan daripada menyalahkan prinsip moral Anda sendiri.

4. Mitigasi Risiko: Administrasi yang Rapi

Jika tekanan semakin kuat, pastikan setiap instruksi yang bersifat “tidak lazim” didokumentasikan. Memang, jarang ada atasan yang mau memberikan instruksi tertulis untuk melanggar aturan. Mereka biasanya hanya bicara lisan atau lewat telepon.

Jika Anda menerima instruksi lisan yang berisiko, balaslah dengan konfirmasi melalui email atau nota dinas formal: “Menindaklanjuti arahan lisan Bapak/Ibu mengenai proyek X, kami sampaikan bahwa sesuai regulasi Perpres No. 12 Tahun 2021, prosedur yang harus dilalui adalah…”

Ini bukan untuk menantang, tapi untuk menciptakan jejak kertas (paper trail). Orang yang berniat buruk biasanya akan mundur pelan-pelan jika tahu Anda adalah tipe orang yang sangat tertib administrasi dan selalu mencatat segala sesuatu.

5. Jangan Pernah Sendirian

Jangan memikul beban “titipan” ini di pundak Anda sendiri. Jika Anda anggota Pokja, pastikan pengambilan keputusan dilakukan secara kolektif kolegial. Jika Anda PPK, konsultasikan setiap keraguan kepada APIP (Aparat Pengawasan Intern Pemerintah) atau bagian hukum di instansi Anda.

Melibatkan banyak pihak membuat ruang gelap untuk “main mata” menjadi sempit. Semakin banyak mata yang melihat proses tersebut, semakin sulit bagi oknum untuk memaksakan kehendak yang melanggar aturan. Auditor lebih sulit menyalahkan sebuah keputusan yang diambil berdasarkan rapat tim dan berita acara resmi yang lengkap.

6. Berani Mengatakan “Tidak” pada Titik Nadir

Ada kalanya, tekanan sampai pada titik di mana Anda dipaksa melakukan pelanggaran fatal (seperti memalsukan dokumen atau memenangkan vendor yang jelas-jelas fiktif). Pada titik ini, pilihannya hanya satu: Tolak.

Memang, risikonya mungkin jabatan dicopot, mutasi ke daerah terpencil, atau kehilangan tunjangan. Tapi coba bandingkan dengan risiko masuk penjara, nama baik hancur, dan keluarga menanggung malu seumur hidup. Jabatan bisa dicari lagi, tapi integritas—sekali hilang—tidak akan pernah kembali.

Banyak senior di dunia pengadaan yang selamat hingga pensiun bukan karena mereka tidak pernah dapat titipan, tapi karena mereka tahu kapan harus berkata “Cukup” dan lebih memilih kehilangan jabatan daripada kehilangan kemerdekaan.

7. Membangun Reputasi sebagai Orang yang “Kaku”

Ada trik psikologis yang menarik: jadilah orang yang dikenal “kaku” dan “cerewet” soal aturan sejak hari pertama. Jika orang sudah tahu bahwa Anda adalah “polisi aturan” yang tidak bisa diajak kompromi, maka para pemberi titipan biasanya akan segan sendiri dan mencari “korban” lain yang dianggap lebih fleksibel.

Reputasi sebagai orang yang bersih adalah perlindungan terbaik. Oknum biasanya takut menitipkan sesuatu pada orang yang mereka tahu tidak bisa “dipegang” atau justru mungkin akan melaporkan mereka ke pihak berwajib.

Kesimpulan

“Titipan” mungkin akan selalu ada selama manusia masih memiliki kepentingan. Namun, terjebak di dalamnya adalah pilihan. Menghadapi titipan tanpa masuk penjara membutuhkan kombinasi antara kecerdasan emosional, ketertiban administrasi, dan keberanian moral.

Ingatlah, di akhir hari, yang menandatangani dokumen adalah Anda. Yang namanya tercantum dalam kontrak adalah Anda. Dan jika terjadi masalah hukum, yang akan duduk di kursi pesakitan adalah Anda, bukan mereka yang menelepon Anda dari balik meja nyaman mereka. Tetaplah bekerja sesuai aturan, karena tidak ada proyek di dunia ini yang sepadan dengan kebebasan Anda.

Penulis adalah praktisi yang percaya bahwa tidur nyenyak tanpa takut ketukan pintu petugas di pagi hari adalah kemewahan tertinggi bagi orang pengadaan.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *