Pemenang Setia: Kok Dia Lagi?

Pernahkah Anda iseng menongkrongi laman pengumuman pemenang tender di website LPSE (Layanan Pengadaan Secara Elektronik) sebuah instansi selama tiga atau empat tahun berturut-turut? Kalau Anda cukup sabar dan punya stok kopi yang kuat, Anda akan menemukan sebuah fenomena magis yang lebih konsisten daripada jadwal hujan di bulan Januari. Fenomena itu bernama: “Pemenang Setia”.

Judul pengadaan barangnya boleh ganti-ganti. Tahun ini pengadaan komputer, tahun besok pengadaan printer, tahun depannya lagi renovasi ruang laktasi. Tapi begitu Anda klik nama pemenangnya, jeng jeng… muncul satu nama CV atau PT yang itu-itu saja. Seolah-olah di republik ini, hanya perusahaan itulah yang paling sakti, paling ahli, dan paling direstui oleh alam semesta untuk mengurusi segala kebutuhan kantor dinas tersebut.

“Kok dia lagi?” gumam kita sambil garuk-garuk kepala. Apakah perusahaan ini memang sebanding dengan Avengers yang serba bisa, atau ada “tali pusar” yang belum putus antara si direktur perusahaan dengan si pemegang stempel di dalam gedung sana?

Mitos Kompetisi di Balik Angka “Skor Tertinggi”

Secara administratif, semuanya tampak sempurna. Ada lima peserta tender, ada evaluasi teknis, ada negosiasi harga. Si Pemenang Setia ini selalu muncul dengan skor tertinggi. Portofolionya mentereng (ya terang saja, lha wong semua proyek dia yang borong), syarat alatnya lengkap, dan harganya—ajaibnya—selalu pas berada di bawah pagu anggaran dengan selisih yang sangat tipis.

Inilah yang saya sebut sebagai “Kompetisi di Atas Kertas”. Dalam jagat pengadaan, Pemenang Setia ini biasanya adalah “vendor peliharaan”. Hubungan mereka dengan pejabat pengadaan bukan lagi hubungan profesional antara pembeli dan penjual, melainkan sudah seperti hubungan suami-istri yang sudah paham luar-dalam.

Si vendor sudah tahu kapan anggaran akan cair, dia sudah tahu spesifikasi apa yang disukai si Bapak, bahkan dia mungkin ikut “membantu” menyusun draf dokumen lelangnya. Vendor lain yang mencoba masuk tanpa “restu” ibarat tamu tak diundang yang mencoba ikut makan di hajatan keluarga: mereka akan dipelototi, dicari-cari kesalahannya, dan akhirnya diusir dengan alasan administratif yang paling sepele.

Investasi “Urat Malu” dan Loyalitas Tanpa Batas

Kenapa instansi pemerintah hobi memelihara Pemenang Setia? Alasan paling klasik adalah “kenyamanan”. Pejabat pengadaan sering berkilah, “Kalau pakai vendor ini, kerjanya enak, Mas Iqbal. Sudah tahu selera kami, nggak banyak tanya, dan kalau ada apa-apa gampang dihubungi.”

Tapi mari kita terjemahkan kata “enak” itu ke dalam bahasa yang lebih jujur. “Enak” berarti si vendor siap memberikan cashback tanpa diminta. “Enak” berarti si vendor siap menalangi dulu biaya perjalanan dinas atau acara seremoni kantor yang anggarannya belum turun. “Enak” berarti ada loyalitas yang dibangun di atas tumpukan komitmen bawah meja.

Pemenang Setia ini adalah “investor” bagi oknum pejabat. Mereka rela merugi di satu proyek kecil demi mengamankan proyek raksasa di tahun depan. Mereka adalah penyedia “dana taktis” yang siap sedia kapan pun si pejabat butuh. Jadi, ketika tender dibuka, pengumuman pemenang itu sebenarnya hanyalah formalitas untuk melegalkan janji suci yang sudah dibuat sambil makan durian di malam hari.

Matinya Regenerasi dan Inovasi Vendor Lokal

Dampak dari adanya Pemenang Setia ini sangat fatal bagi ekosistem bisnis. Pengusaha-pengusaha muda yang punya ide segar, teknologi baru, dan semangat jujur, akhirnya layu sebelum berkembang. Mereka melihat tembok raksasa bernama “Vendor Langganan” yang tidak mungkin ditembus.

“Buat apa ikut tender? Toh pemenangnya sudah ada di saku baju si Bapak,” begitu keluh mereka. Akhirnya, yang tersisa hanyalah vendor-vendor “pemain lama” yang kualitas kerjanya seringkali jalan di tempat. Mereka tidak merasa perlu berinovasi karena posisi mereka sudah aman terlindungi oleh kedekatan.

Kualitas pembangunan kita pun jadi stagnan. Kita mendapatkan barang yang itu-itu saja, dengan teknologi yang itu-itu saja, dari orang yang itu-itu saja. Kita terjebak dalam lingkaran setan nepotisme pengadaan yang dibungkus dengan rapi oleh sistem digital.

Kapan Ada “Penyegaran”?

Kita butuh aturan yang lebih tegas untuk membatasi dominasi satu vendor dalam satu instansi dalam jangka waktu tertentu. Kita butuh sistem audit yang berani bertanya: “Kenapa perusahaan ini menang 10 kali berturut-turut dalam 3 tahun?”

Digitalisasi pengadaan lewat LPSE harusnya membawa udara segar persaingan, bukan malah jadi alat untuk memantau siapa yang paling setia menyetor “fee”. Tanpa adanya keberanian untuk memutus rantai Pemenang Setia ini, pengadaan barang kita akan selalu menjadi arisan keluarga yang biayanya dibayar oleh keringat rakyat lewat pajak.

Saya menutup laptop saya, melihat lagi laman LPSE tadi. Nama perusahaan itu masih di sana, menjadi juara bertahan untuk ke sekian kalinya. Saya cuma bisa berharap, semoga suatu saat nanti, “juara sejati” dalam pengadaan adalah mereka yang paling jujur dan paling berkualitas, bukan mereka yang paling rajin “mengawal” si Bapak ke tempat karaoke atau restoran mahal.

Mari kita ngopi lagi. Setidaknya penjual kopi saya bukan “Pemenang Setia” langganan kantor dinas, jadi rasa pahitnya tetap murni, tidak tercampur rasa sungkan atau aroma “jatah” proyek.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *