Kekuatan “Orang Dalam” dalam Memenangkan Proyek Besar

Beberapa waktu lalu, saya duduk di sebuah lobi hotel bintang lima di Jakarta, tempat di mana AC-nya begitu dingin sampai-sampai dosa-dosa para pengunjungnya seolah membeku. Di sofa seberang, saya melihat seorang pria paruh baya dengan kemeja batik sutra yang harganya mungkin setara dengan gaji setahun guru honorer. Ia sedang sibuk berbisik di telepon, “Tenang saja, Mas. ‘Orang dalam’ kita sudah kunci speknya. Vendor lain mau banting harga sampai tipis pun nggak akan bisa masuk. Jalurnya sudah kita siram rata.”

Saya menyeruput kopi hotel yang harganya tidak masuk akal itu sambil membatin. Istilah “Orang Dalam” atau insider di dunia pengadaan kita itu saktinya melebihi keris pusaka mana pun. Ia adalah kunci dari segala pintu, kompas di tengah rimba birokrasi, dan jaminan keselamatan bagi para pemburu rente.

Dalam proyek-proyek besar bernilai miliaran hingga triliunan, kemenangan itu jarang sekali ditentukan di hari pembukaan dokumen penawaran di layar monitor. Kemenangan itu seringkali sudah “selesai” di ruang-ruang gelap, di lapangan golf, atau di grup WhatsApp rahasia yang isinya adalah persekutuan antara pengusaha dan “Orang Dalam”.

Intelijen di Balik Meja Lelang

Mari kita bedah apa sebenarnya fungsi “Orang Dalam” ini. Dia bukan cuma sekadar pemberi bocoran, dia adalah desainer kemenangan.

Pertama, dia adalah pemasok informasi “A1”. Sebelum tender ditayangkan di LPSE, si vendor titipan sudah tahu berapa pagu anggarannya, siapa saja saingan yang bakal dijegal, dan yang paling krusial: apa “keinginan” pimpinan. Vendor lain masih sibuk menebak-nebak, sementara si vendor “berjalur dalam” sudah mulai memesan material dan mengunci sub-kontraktor.

Kedua, “Orang Dalam” adalah penjahit spesifikasi teknis. Ini adalah seni tingkat tinggi. Bagaimana caranya membuat spesifikasi yang seolah-olah terbuka untuk umum, tapi sebenarnya hanya bisa dipenuhi oleh satu vendor tertentu?

“Barang harus memiliki fitur X yang dipatenkan di negara Y,” atau “Penyedia harus memiliki sertifikat Z yang masa berlakunya minimal 10 tahun.” Padahal, di seluruh Indonesia, cuma si vendor titipan itu yang punya “fitur X” dan “sertifikat Z”. Vendor lain yang lebih murah? Gugur secara administratif dengan alasan “tidak memenuhi spesifikasi teknis”. Sederhana, legal, tapi amisnya minta ampun.

Pengawalan dari Hulu ke Hilir

Kekuatan “Orang Dalam” tidak berhenti di tahap lelang. Justru fungsi paling saktinya ada di tahap pelaksanaan dan pengawasan.

Kalau proyek dikerjakan oleh vendor “jalur dalam”, biasanya tim pengawas lapangan akan mendadak mengalami gangguan penglihatan. Besi yang harusnya diameter 16 mili, tapi dipasang 13 mili? Ah, selisih sedikit, tidak apa-apa. Aspal yang harusnya tebal 5 senti, tapi cuma 3 senti? Mungkin tanahnya yang menyusut, pikir si pengawas sambil mengantongi amplop “biaya bensin”.

“Orang Dalam” memastikan bahwa termin pembayaran cair dengan lancar tanpa banyak tanya. Kalau ada LSM atau wartawan yang mulai mengendus bau busuk proyek tersebut, si “Orang Dalam” jugalah yang pasang badan, memberikan argumen-argumen teknis yang membingungkan untuk menutupi borok pekerjaan. Ini adalah ekosistem perlindungan yang sangat solid, di mana uang rakyat menjadi tumbal demi menjaga kenyamanan lingkaran tersebut.

Matinya Meritokrasi dan Lahirnya “Pengusaha Makelar”

Dampak paling ngeri dari hegemoni “Orang Dalam” adalah matinya semangat kompetisi yang sehat. Para pengusaha yang benar-benar ahli, yang punya peralatan lengkap, dan yang punya manajemen efisien, akhirnya memilih mundur dari proyek pemerintah.

“Buat apa kita investasi alat berat miliaran kalau kalahnya sama orang yang modalnya cuma ‘nomor HP pejabat’?” keluh seorang kawan kontraktor.

Akibatnya, muncullah kasta “Pengusaha Makelar”. Mereka ini tidak punya keahlian teknis, mereka tidak tahu cara mengaduk semen yang benar. Keahlian utama mereka cuma satu: melobi “Orang Dalam”. Begitu menang proyek, mereka sub-kontrakkan lagi pekerjaannya ke orang lain dengan harga yang sudah diperas habis. Hasilnya? Pembangunan yang dikerjakan dengan sisa-sisa anggaran, oleh orang-orang yang tidak kompeten, di bawah pengawasan yang sudah disuap.

Meruntuhkan Tembok “Orang Dalam”

Selama pengadaan barang dan jasa masih bergantung pada “siapa yang kamu kenal” dan bukan “apa yang kamu bisa”, maka infrastruktur kita akan selalu menjadi barang kualitas dua dengan harga kualitas satu.

Kita butuh sistem yang lebih dari sekadar digital. Kita butuh transparansi yang benar-benar telanjang. Publik harus tahu siapa di balik vendor-vendor besar itu, apa rekam jejaknya, dan apakah ada hubungan darah atau kepentingan dengan para pengambil keputusan. Kita juga butuh perlindungan bagi para whistleblower di dalam birokrasi yang berani membongkar praktik “jalur dalam” ini.

Saya meninggalkan lobi hotel itu saat pria berbatik sutra tadi berdiri, menyalami lawan bicaranya dengan tawa yang sangat puas. Deal sudah dibuat, “Orang Dalam” sudah bekerja, dan uang rakyat sedang bersiap-siap untuk dikaveling lagi.

Mari kita ngopi lagi. Setidaknya kopi saya sore ini saya pesan sendiri ke barista tanpa perlu “Orang Dalam” untuk memastikan kopinya enak. Pahitnya jujur, tidak pakai spesifikasi yang dikunci.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *